KALBARHUB.COM – PT Hutan Ketapang Industri (HKI) menyiapkan revegetasi pada areal eks terbakar di area konsesinya seluas sekitar 670 hektare di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga fungsi ekologis kawasan dan meningkatkan kualitas pengelolaan hutan berkelanjutan.
Untuk mendukung rencana tersebut, HKI menggandeng Fakultas Kehutanan (Fahutan), Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam menyusun pendekatan pemulihan lingkungan yang sesuai dengan kondisi ekologis di lapangan, mulai dari pemeriksaan kondisi tanah, pemilihan jenis tanaman hingga pemantauan keberhasilan revegetasi.
HKI merupakan perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di bidang kehutanan dengan komoditas utama karet dan hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Dalam persiapan revegetasi, perusahaan menyiapkan sejumlah jenis tanaman, di antaranya belangiran, pulai, mahoni dan gaharu, termasuk persiapan jalur tanam.
Penanaman tersebut diarahkan untuk memulihkan tutupan vegetasi sekaligus mendukung pemulihan fungsi ekologis kawasan.
Direktur Utama PT HKI, Hero Djajakusumah, mengatakan pengelolaan hutan berkelanjutan perlu memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
Menurutnya, upaya menjaga fungsi ekologis kawasan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial dan perbaikan praktik pengelolaan hutan.
“Bagi HKI, pengelolaan hutan berkelanjutan bukan hanya tentang aspek ekonomi, tetapi juga bagaimana menjaga fungsi ekologis kawasan dan menjalankan tanggung jawab sosial. Karena itu, kami terus mendorong perbaikan praktik pengelolaan hutan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan data lapangan,” kata Hero.
Komitmen tersebut diperkuat melalui kolaborasi HKI dengan Fahutan UGM yang telah terjalin sejak 2019. Kerja sama ini mencakup penelitian, restorasi dan rehabilitasi hutan, termasuk penerapan pendekatan percepatan suksesi vegetasi pada areal konservasi.
Penguatan kerja sama itu kembali dibahas dalam Forum Penguatan Kolaborasi PT HKI–Fakultas Kehutanan UGM untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).
Melalui kolaborasi tersebut, HKI mendorong keterlibatan akademisi dalam memberikan kajian ilmiah, rekomendasi teknis dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan hutan.
Perusahaan juga berharap hasil kolaborasi dengan pemegang PBPH dapat disampaikan berdasarkan data dan kajian objektif agar kontribusi serta perbaikan praktik pengelolaan hutan dapat dinilai secara terukur.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam persiapan revegetasi adalah kondisi tapak atau site assessment. Fahutan UGM merekomendasikan agar pemeriksaan kondisi tapak, khususnya karakteristik tanah, dilakukan sebelum penanaman dimulai.
Pemeriksaan ini diperlukan untuk menentukan kesesuaian jenis tanaman, metode revegetasi dan perlakuan yang dibutuhkan pada setiap lokasi.
Dengan demikian, rencana penanaman dapat disusun berdasarkan kondisi aktual di lapangan, mengingat setiap kawasan memiliki karakteristik ekologis yang berbeda.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dwiko Budi Permadi, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha diperlukan untuk mendukung pengelolaan hutan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Kolaborasi antara Fakultas Kehutanan UGM dan PT Hutan Ketapang Industri yang telah terjalin sejak 2019 merupakan bentuk sinergi penting antara dunia akademik dan dunia usaha dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan,” kata Dwiko.
Ia menjelaskan, pemulihan lingkungan membutuhkan kajian ilmiah, pendekatan ekologis yang tepat dan pemantauan berkelanjutan.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan agar restorasi dan rehabilitasi hutan berjalan efektif serta dapat dievaluasi secara terukur.
“Kami memandang bahwa upaya pemulihan lingkungan pascakarhutla perlu didukung oleh kajian ilmiah, pendekatan ekologis yang tepat, serta pemantauan berkelanjutan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan agar proses restorasi dan rehabilitasi dapat berjalan secara efektif dan terukur,” ujarnya.
Menurut Dwiko, revegetasi juga perlu mempertimbangkan kesesuaian jenis tanaman dengan kondisi ekologis setiap lokasi, mengoptimalkan regenerasi alami dan memperhatikan proses percepatan suksesi vegetasi.
Keberhasilan pemulihan tidak cukup dinilai dari jumlah bibit yang ditanam. Tingkat hidup tanaman, perkembangan vegetasi dan pemulihan fungsi ekologis kawasan juga perlu menjadi indikator untuk melihat sejauh mana upaya revegetasi memberikan hasil.
Karena itu, HKI bersama Fahutan UGM akan menindaklanjuti rekomendasi tersebut melalui pemeriksaan kondisi tapak dan tanah sebagai dasar penyusunan desain revegetasi.
Keduanya juga akan menyusun rekomendasi teknis mengenai kesesuaian jenis tanaman, metode penanaman dan kebutuhan perlakuan tapak.
Rencana pelaksanaan revegetasi selanjutnya disusun berdasarkan hasil kajian dan kondisi aktual di lapangan.
Selain itu, mekanisme pemantauan dan evaluasi akan dikembangkan untuk mengukur perkembangan vegetasi serta keberhasilan pemulihan secara terukur dan berkelanjutan.
Koordinasi HKI dan Fahutan UGM juga akan diperkuat melalui penelitian, pendampingan teknis, dokumentasi dan penyebarluasan hasil pemulihan lingkungan.
Dwiko berharap kolaborasi tersebut terus dikembangkan melalui penelitian, pendampingan teknis dan pengembangan praktik pengelolaan hutan yang bertanggung jawab, sehingga memberikan manfaat nyata bagi pemulihan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Hero menegaskan bahwa kerja sama dengan kalangan akademisi merupakan bagian dari upaya HKI untuk terus memperbaiki praktik pengelolaan hutan.
“Melalui kolaborasi dengan UGM, kami berharap upaya pengelolaan dan pemulihan lingkungan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran, terukur dan berkelanjutan. Kami ingin memastikan bahwa aspek ekonomi, sosial dan lingkungan menjadi bagian yang saling mendukung dalam pengelolaan hutan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, HKI dan Fahutan UGM mendorong pengelolaan hutan yang tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga pada keberhasilan pertumbuhan vegetasi dan pemulihan fungsi ekologis kawasan dalam jangka panjang.









