KALBARHUB.COM – Air mata haru tak mampu dibendung Supatmi salah satu warga kota Singkawang, saat memasuki rumah barunya yang telah selesai dibangun melalui program bedah rumah dari donatur. Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah yang bocor setiap musim hujan, kini ia dapat menempati hunian yang lebih layak dan nyaman, Jumat (4/7/2026) kemarin.

Supatmi mengaku rumah lamanya kerap kemasukan air ketika hujan turun. Kondisi itu membuat keluarganya tidak pernah merasa tenang. Kini, rumah yang ditempatinya telah berdiri kokoh dan tidak lagi mengalami kebocoran.

Donatur program bedah rumah, Helga Abraham, yang merupakan Presiden Asian Chinese Youth Association mengaku bersyukur program tersebut dapat selesai dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kami bersyukur bisa hadir di sini dan melihat bedah rumah ini berjalan dengan baik. Harapannya, program ini terus menjadi berkat dan membawa manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Helga, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi menjadi tempat bertumbuhnya harapan, kasih sayang, dan masa depan sebuah keluarga.

“Rumah ini bukan sekadar atap dan bangunan. Kami berharap dari rumah ini lahir keluarga yang bahagia, anak-anak dapat tumbuh dengan baik, serta menjadi keluarga yang bermanfaat bagi Kota Singkawang dan bangsa Indonesia,” katanya.

Helga yang juga Ketua Umum Persaudaraan Wanita Tionghoa Indonesia berharap bantuan tersebut dapat menghadirkan rasa aman sekaligus menjadi penyemangat bagi keluarga penerima manfaat untuk terus berbagi kepada sesama.

Sementara itu, Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengapresiasi kepedulian Abraham Rudy dan Helga Abraham yang terus berkontribusi membantu masyarakat melalui pembangunan rumah layak huni.

Menurutnya, keluarga Abraham Rudy dan Helga Abraham selama ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk memberikan bantuan kepada masyarakat pada berbagai kesempatan.

Wali kota mengungkapkan, hingga kini keluarga Abraham Rudy dan Helga Abraham telah membantu pembangunan belasan rumah layak huni bagi warga Kota Singkawang.

“Yang terpenting dari sebuah rumah adalah kebahagiaan keluarga yang tinggal di dalamnya. Bantuan ini merupakan wujud cinta kasih kepada sesama tanpa memandang suku maupun agama,” ujarnya.

Ia menegaskan proses penentuan penerima bantuan dilakukan berdasarkan kondisi ekonomi dan kelayakan rumah, tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama.

Tjhai Chui Mie meminta para lurah, ketua RT, dan perangkat wilayah terus mendata rumah tidak layak huni agar dapat diusulkan dalam program bantuan berikutnya, baik yang bersumber dari pemerintah maupun para donatur.

Penulis: Redaksi

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.