KALBARHUB.COM – Kekhawatiran terhadap dugaan intimidasi dalam kehidupan demokrasi menjadi perhatian sejumlah kalangan di Pontianak. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa dan aktivis untuk membuka ruang diskusi bersama.
Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kalimantan Barat menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada Selasa (17/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Cafe Panglima ini mengangkat tema tentang kondisi demokrasi serta kebebasan berekspresi. Forum tersebut diikuti peserta dari berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap isu demokrasi.
Diskusi membahas berbagai persoalan yang berkembang saat ini. Topik yang disoroti antara lain dugaan intimidasi, pembungkaman kebebasan berekspresi, hingga isu pelanggaran hak asasi manusia.
Ketua PKC PMII Kalimantan Barat, Ach Sukron, menegaskan pentingnya menjaga ruang demokrasi agar tetap terbuka dan bebas dari tekanan.
Kasus intimidasi aktivis-aktivis yang ada di seluruh Indonesia salah satunya aktivis kontras Andrie Yunus di Jakarta mengkritik tentang undang-undang militer.
“Demokrasi tidak boleh dibungkam dengan intimidasi. Kita harus memastikan kebebasan berekspresi tetap terjaga, terutama bagi para aktivis,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan dari peserta. Mereka menyampaikan kritik dan saran terkait kondisi demokrasi saat ini.
Salah satu isu yang turut disoroti adalah kasus yang menimpa aktivis Andrie Yunus. Kasus tersebut menjadi perhatian peserta agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Dari hasil diskusi, forum merumuskan sejumlah poin dan rekomendasi. Rekomendasi tersebut menjadi sikap bersama terhadap persoalan yang dibahas dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan FGD ditutup dengan penyampaian kesimpulan. Peserta berharap forum seperti ini dapat terus digelar sebagai ruang dialog yang konstruktif.
Mereka juga berharap upaya tersebut dapat menjaga nilai demokrasi yang sehat serta mendorong kehidupan masyarakat yang lebih adil tanpa intimidasi.









