KALBARHUB.COM – Suasana haru menyelimuti peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat di Taman Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak, Minggu (28/6/2026). Salah seorang ahli waris korban Tragedi Mandor, Hermawan Soewono, mengaku tidak mampu menyembunyikan rasa sedih saat mengenang kakeknya yang menjadi korban pembantaian pada masa pendudukan Jepang.
Hermawan hadir bersama adiknya, Heru Soewono, untuk mengikuti rangkaian peringatan yang digelar setiap 28 Juni. Di tengah deretan makam para tokoh masyarakat, tokoh politik, bangsawan, cendekiawan, hingga masyarakat umum yang menjadi korban Tragedi Mandor, keduanya tampak larut dalam suasana khidmat.
Bagi Hermawan, kehadirannya di Taman Makam Juang Mandor bukan sekadar menghadiri seremoni tahunan, tetapi menjadi momen mengenang sejarah kelam yang turut dialami keluarganya.
“Ini rasa yang campur aduk. Sedih, bangga, sekaligus berterima kasih. Melihat langsung tempat para pejuang gugur, salah satunya adalah kakek kami, Saliman SastroLoekito, yang merupakan kepala sekolah di Singkawang sekaligus tokoh masyarakat, rasanya seperti dipanggil untuk tidak melupakan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia berharap generasi muda terus mengenang pengorbanan para korban Tragedi Mandor agar sejarah kelam tersebut tidak pernah terlupakan.
Tragedi Mandor yang terjadi pada 1943–1944 menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Kalimantan Barat. Sekitar 21.037 jiwa dilaporkan menjadi korban, terdiri atas tokoh masyarakat, tokoh politik, cendekiawan, bangsawan, hingga masyarakat sipil.
Sebagai bentuk penghormatan kepada para korban, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007.









