KALBARHUB.COM – Pemerintah Kota Pontianak terus berupaya menangani persoalan banjir dan genangan yang terjadi di sejumlah kawasan, terutama saat hujan deras bersamaan dengan pasang air sungai atau rob. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengerahkan ekskavator amfibi untuk mengeruk parit dan saluran air.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, kondisi banjir di Pontianak tidak terlepas dari karakter topografi kota yang relatif datar sehingga aliran air membutuhkan waktu lebih lama untuk surut ketika curah hujan tinggi.
“Banjir di Kota Pontianak ini memang kita sudah berupaya. Kota Pontianak topografinya flat. Kemarin hujan lebih dari tiga jam dengan curah hujan yang besar, berdasarkan data yang saya dapatkan dari BMKG,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Menurut Edi, tingginya curah hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir juga bertepatan dengan fenomena pasang rob yang mencapai sekitar dua meter hingga 19 Juni 2026. Kondisi tersebut membuat sejumlah kawasan rendah mengalami genangan.
“Sekarang ini sampai tanggal 19 air pasang rob sampai dua meter. Jam puncaknya sekitar jam 9 atau 10 malam. Karena hujannya besar, kawasan yang rendah menjadi tergenang,” katanya.
Untuk mengurangi dampak banjir, Pemkot Pontianak terus meningkatkan fungsi parit dan drainase melalui pengerukan, normalisasi, serta penurapan saluran air. Pengerjaan tersebut dilakukan menggunakan ekskavator amfibi agar lebih efektif menjangkau saluran yang sulit diakses alat berat biasa.
“Upaya kita tetap meningkatkan fungsi parit-parit yang ada, dengan pengerukan dan penurapan, termasuk parit-parit besar,” jelasnya.
Selain pengerukan saluran, pemerintah kota juga melakukan program pompanisasi dengan menyiapkan dua unit pompa untuk membantu mempercepat aliran air di kawasan rawan genangan.
Pemkot juga berencana mengganti sejumlah jembatan yang dinilai menghambat aliran air menuju Sungai Kapuas. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah kawasan Parit Tokaya yang memiliki daerah tangkapan air cukup luas.
“Kita akan mengganti jembatan-jembatan yang selama ini menghambat percepatan air menuju Sungai Kapuas. Salah satu contoh Parit Tokaya, karena catchment area-nya luas. Ini akan kita koneksikan antara parit dengan parit,” paparnya.
Edi menambahkan, Pemerintah Kota Pontianak telah memiliki master plan penanganan banjir dan terus berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Menurutnya, penanganan banjir membutuhkan sinergi lintas pemerintah karena persoalan air tidak hanya berada dalam kewenangan pemerintah kota.
“Kita sudah punya master plan dan sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Kementerian PU, dan Pemerintah Provinsi. Karena bicara banjir Kota Pontianak ini juga menyangkut masalah wilayah,” tuturnya.
Ia menegaskan, upaya penanganan banjir akan terus dilakukan secara bertahap melalui perbaikan drainase, normalisasi saluran, pompanisasi, penataan infrastruktur, serta kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
“Tidak bisa menyelesaikan hanya di kota saja, tetapi juga melibatkan provinsi dan Kementerian PU,” pungkasnya









