KALBARHUB.COM – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat masih menghadapi kekurangan tenaga medis, baik dokter umum maupun dokter spesialis, dengan distribusi yang belum merata antarwilayah kabupaten/kota.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, dr. Harisson, menyebutkan jumlah dokter di Kalbar saat ini masih jauh dari standar ideal yang ditetapkan World Health Organization (WHO) dan Bappenas. Dengan jumlah penduduk sekitar 5,6 juta jiwa, Kalbar idealnya memiliki 5.600 dokter umum, namun baru tersedia 1.571 orang.

Kondisi serupa juga terjadi pada dokter spesialis. Berdasarkan standar Bappenas, Kalbar membutuhkan 1.590 dokter spesialis, sementara jumlah yang ada baru mencapai 541 orang.

Selain kekurangan jumlah, Harisson menyoroti ketimpangan distribusi tenaga medis. Kota Pontianak tercatat memiliki kelebihan dokter spesialis, sedangkan sejumlah kabupaten seperti Kayong Utara, Kubu Raya, dan Sekadau masih mengalami kekurangan signifikan.

“Tanpa langkah luar biasa, kebutuhan dokter spesialis ini tidak akan pernah terpenuhi. Karena itu, Pemprov Kalbar mendorong kemandirian pendidikan dokter spesialis di daerah,” kata Harisson saat menghadiri pelantikan Pengurus IDI Wilayah Kalbar 2025–2028 di Pontianak, Senin (9/2/2026).

Pemprov Kalbar telah melakukan sejumlah langkah, di antaranya kerja sama Universitas Tanjungpura dengan Universitas Sebelas Maret untuk pembukaan pendidikan dokter spesialis THT, serta hospital-based training di RSUD dr. Soedarso.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program beasiswa dan ikatan dinas bagi putra-putri daerah agar kembali mengabdi di daerah asal.

Harisson berharap kepengurusan IDI Wilayah Kalbar yang baru dapat memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam melakukan asesmen kebutuhan dokter, sehingga distribusi tenaga medis di Kalimantan Barat semakin merata.

Penulis: Tim Liputan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.