KALBARHUB.COM – Kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (PB ABTI) Zulfydar Zaidar Mochtar membawa bola tangan Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya mencatat sejarah melalui raihan medali pada ajang internasional, Zulfydar juga menyiapkan langkah besar agar bola tangan masuk dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) melalui penguatan prestasi dan sistem pembinaan yang berkelanjutan, Sabtu (25/7/2026).
Hal tersebut disampaikannya dalam Musyawarah Nasional (Munas) PB ABTI yang digelar di Pontianak. Menurut Zulfydar, Munas bukan sekadar agenda memilih kepengurusan baru, tetapi menjadi momentum mengevaluasi seluruh capaian organisasi sekaligus menyusun arah pembinaan ke depan.
“Munas itu mengevaluasi apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum diselesaikan. Ini menjadi tanggung jawab semua pihak untuk melaksanakan progres yang telah disampaikan,” ujarnya.
Ia menuturkan, perkembangan bola tangan Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Berbagai prestasi berhasil diraih, baik pada nomor indoor maupun beach handball.
Tim nasional beach handball putri, kata dia, mampu mempertahankan dominasi sebagai juara di kawasan Asia Tenggara. Sementara tim putra berhasil menembus peringkat ketujuh Asia dengan mencatat kemenangan atas Hong Kong, China, dan Kuwait. Untuk sektor putri di tingkat Asia, Indonesia juga berhasil menempati peringkat ketiga.
Prestasi bersejarah lainnya tercipta pada SEA Games terakhir ketika tim nasional bola tangan putra berhasil mempersembahkan medali perunggu, yang menjadi medali pertama Indonesia pada cabang olahraga tersebut.
“Di SEA Games terakhir kita mendapatkan medali perunggu. Ini menjadi sejarah pertama bagi bola tangan Indonesia. Target kami sekarang tidak hanya Asia Tenggara, tetapi juga Asia,” katanya.
Berbekal capaian tersebut, Zulfydar optimistis bola tangan Indonesia sudah layak menjadi salah satu cabang olahraga prioritas nasional melalui DBON. Menurutnya, secara persyaratan, bola tangan telah memiliki rekam jejak prestasi pada ajang multi event maupun single event internasional.
“Sekarang ini kita sudah memiliki catatan resmi di SEA Games maupun Asia. Berdasarkan data itu, seharusnya bola tangan sudah menjadi bagian dari DBON,” tegasnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, PB ABTI telah menyiapkan penguatan pembinaan dari hulu melalui dunia pendidikan. Organisasi akan menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi agar mahasiswa memperoleh pendidikan sekaligus sertifikasi kepelatihan setelah lulus.
“Setelah mahasiswa lulus, mereka diberikan sertifikasi kepelatihan sehingga bisa mengajar di sekolah-sekolah,” jelas Zulfydar.
Menurutnya, skema tersebut akan melahirkan pelatih-pelatih baru di seluruh Indonesia sehingga setiap kabupaten dan kota memiliki klub berbasis sekolah. Sistem pembinaan yang berjenjang itu diharapkan mampu menciptakan regenerasi atlet secara berkelanjutan sekaligus memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
“Kalau seluruh Indonesia melakukan hal yang sama, maka bonus demografi bisa kita manfaatkan. Anak-anak yang sekarang masih usia sekolah akan siap menjadi generasi emas pada 2045,” ujarnya.
Pada Munas kali ini, Zulfydar juga menjadi satu-satunya calon yang memenuhi persyaratan sebagai Ketua Umum PB ABTI periode berikutnya.
“TPP telah menetapkan hanya ada satu calon yang diterima. Dari yang mengambil formulir, hanya saya sendiri yang mengembalikannya. Sementara ini disebut calon tunggal, namun penetapan resminya tetap akan diputuskan melalui Munas,” katanya.
Apabila kembali dipercaya memimpin PB ABTI, ia menegaskan fokus organisasi akan diarahkan pada peningkatan prestasi di level Asia, setelah target di Asia Tenggara mulai tercapai.
“Target berikutnya adalah Asia. Asia Tenggara saya kira sudah cukup jelas, sekarang bagaimana kita mencapai prestasi di tingkat Asia,” ucapnya.
Selain itu, Zulfydar mengungkapkan dirinya juga mendapat dukungan dari sejumlah negara di kawasan untuk menghidupkan kembali organisasi bola tangan Asia Tenggara yang telah lama tidak aktif.
“Saya mendapat pesan dari teman-teman Asia Tenggara untuk menjadi Presiden Bola Tangan Asia Tenggara. Sudah lebih dari 10 tahun kepengurusan di tingkat kawasan tidak aktif,” ungkapnya.
Menurutnya, aktifnya organisasi kawasan akan memperbanyak kompetisi internasional sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas atlet Indonesia.
Sebagai tuan rumah Munas, Kalimantan Barat juga dinilai memiliki peran penting dalam perkembangan bola tangan nasional. Zulfydar menyebut tema Munas The Most Beautiful Friendship mencerminkan semangat persahabatan yang menjadi fondasi kemajuan olahraga.
“Hari ini kami mengusung tema The Most Beautiful Friendship. Mengapa persahabatan menjadi yang utama? Karena perdamaian itu lebih baik, dan persahabatan harus selalu diutamakan,” katanya.
Ia menilai Kalimantan Barat berhasil menunjukkan bahwa suasana yang aman dan kondusif akan mendukung lahirnya prestasi olahraga.
“Kami telah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan memberikan kontribusi dalam pembangunan beberapa venue, terutama untuk cabang beach handball dan lapangan outdoor. Saya kira sekarang tinggal dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Menurut Zulfydar, Kalimantan Barat juga pernah mencatat prestasi sebagai juara nasional beach handball sehingga memiliki modal besar untuk terus berkembang.
“Saya kira Kalimantan Barat sudah pernah meraih juara nasional untuk nomor beach handball. Tinggal bagaimana prestasi tersebut terus ditingkatkan ke level yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kementerian Pemuda dan Olahraga, Usman Ali Mustafa, menyatakan pemerintah tengah merevisi Peraturan Presiden tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Saat ini bola tangan memang belum termasuk dalam 21 cabang olahraga prioritas nasional.
“Memang bola tangan belum termasuk di dalam 21 cabang prioritas,” ujarnya.
Meski demikian, peluang tersebut tetap terbuka apabila prestasi bola tangan Indonesia terus meningkat.
“Tidak menutup kemungkinan nanti akan disesuaikan dengan capaian prestasi yang bisa diraih oleh bola tangan itu sendiri. Kalau bola tangan ke depan ingin mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, maka bola tangan harus meningkatkan capaian prestasinya pada level Asia Tenggara, Asia, maupun dunia,” tegas Usman.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pembinaan Hukum KONI Pusat Widodo Sigit Pujianto mengatakan setiap cabang olahraga memiliki kesempatan yang sama masuk dalam DBON selama mampu menunjukkan prestasi secara berjenjang di tingkat internasional.
“Masuk ke DBON itu ada datanya, data secara berjenjang. Kegiatan-kegiatan itu harus masuk ke tingkat internasional, baru kita akan masukkan ke DBON,” katanya.
Widodo menilai perkembangan bola tangan Indonesia cukup prospektif setelah berhasil meraih medali perunggu SEA Games. Ia juga mengapresiasi soliditas kepengurusan PB ABTI yang dinilai menjadi modal penting dalam membangun prestasi.
“Saya lihat kepengurusan ABTI cukup solid. Yang paling penting adalah kepentingan atlet. Pengurus itu nomor dua, nomor satu adalah atlet. Kalau atlet berprestasi dan meraih emas di tingkat internasional, Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar. Itu menjadi kebanggaan bangsa,” pungkasnya.









