KALBARHUB.COM – Ancaman terhadap dunia pendidikan kini tidak selalu berbentuk tawuran atau konflik fisik. Ancaman itu bisa muncul lewat media sosial, forum daring, meme, hingga candaan yang terlihat ringan tetapi sarat muatan ideologi.

Sekretaris Umum PGRI Kalimantan Barat, Suherdiyanto, mengingatkan bahwa ideologi ekstrem seperti Neo-Nazi bukan hanya isu global. Dalam ruang digital, gagasan supremasi identitas, rasisme, dan anti-multikulturalisme bisa menyasar pelajar.

“Ideologi seperti ini tidak selalu hadir dalam bentuk organisasi resmi. Ia bisa masuk lewat algoritma media sosial, konten satir, atau diskusi online yang tampak biasa,” ujarnya.

Ia menilai ancaman terbesar bukan pada simbol. Bahayanya ada pada normalisasi rasisme dan dehumanisasi kelompok lain.

Kalimantan Barat memiliki keberagaman etnis yang kuat. Melayu, Dayak, Tionghoa, Madura, dan etnis lain hidup berdampingan. Karena itu, narasi kebencian berbasis identitas berpotensi memicu gesekan jika tidak diantisipasi sejak dini.

“Yang berbahaya itu pola pikir supremasi kelompok yang perlahan dianggap wajar,” tegasnya.

Generasi muda tumbuh dalam ruang digital. Algoritma media sosial menciptakan ruang gema yang memperkuat satu sudut pandang tanpa koreksi.

Konten ekstrem sering dibungkus humor atau meme. Sekilas terlihat lucu. Namun jika dikonsumsi terus-menerus tanpa literasi, konten itu dapat membentuk cara pandang eksklusif.

Remaja yang sedang mencari jati diri sangat rentan. Ideologi ekstrem menawarkan identitas kuat, musuh bersama, dan rasa superioritas. Dalam kondisi frustrasi sosial, narasi ini terasa memberi makna.

Sekolah perlu peka terhadap tanda-tanda awal. Perubahan sikap yang eksklusif, bahasa bernada kebencian, pembelaan terhadap kekerasan, atau ketertarikan pada teori konspirasi ekstrem bisa menjadi indikator.

Namun sikap kritis rasional tidak boleh langsung dilabeli radikal.

Suherdiyanto menilai Kalbar memiliki modal sosial yang kuat, yaitu tradisi keberagaman dan kearifan lokal. Nilai ini harus dihidupkan dalam praktik sehari-hari.

Dialog lintas budaya, proyek kolaboratif, dan penguatan nilai kebersamaan perlu diperkuat di sekolah.

Literasi digital juga penting. Pelajar harus memahami cara kerja algoritma, propaganda digital, dan manipulasi opini. Tanpa pemahaman itu, ruang maya bisa menjadi pintu masuk ideologi ekstrem.

Pendekatan represif justru dapat memicu sikap defensif. Yang dibutuhkan adalah dialog terbuka dan komunikasi tanpa menghakimi.

Sekolah juga perlu memperkuat layanan bimbingan konseling sebagai ruang refleksi. Energi kritis anak muda harus diarahkan, bukan ditekan.

“Dunia pendidikan tidak boleh hanya fokus pada capaian akademik. Ketahanan ideologis dan karakter kebangsaan sama pentingnya,” ujarnya.

Pancasila harus menjadi praktik, bukan sekadar hafalan. Keberagaman harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika sekolah dan orang tua bersinergi, ruang digital dapat menjadi ruang belajar yang sehat. Pendidikan bukan hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga melahirkan generasi yang inklusif dan tahan terhadap ideologi kebencian.

Penulis: Tim Liputan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.