KALBARHUB.COM – Tradisi Meriam Karbit tidak hanya menjadi hiburan khas Ramadan, tetapi juga pernah berfungsi sebagai sarana komunikasi masyarakat tepian Sungai Kapuas di Pontianak.
Hal itu disampaikan pegiat sejarah, Ahmad Sofian, dalam Talk Show Budaya Dua Tradisi Satu Kota di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Sabtu (28/2/2026) yang diinisiasi Borneo Journalist Hub.
Menurutnya, sejak awal kemunculannya, Meriam Karbit telah menjadi bagian dari kehidupan warga bantaran sungai. Dentuman yang dihasilkan bukan sekadar bunyi keras, melainkan memiliki makna sosial.
“Dulu, dentuman meriam bisa menjadi penanda waktu berbuka puasa hingga penanda Hari Raya. Itu bagian dari sistem komunikasi masyarakat sebelum teknologi berkembang seperti sekarang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat tempo dulu memanfaatkan suara meriam sebagai sinyal yang dapat didengar hingga jarak jauh di sepanjang Sungai Kapuas. Dalam konteks itu, meriam berperan sebagai alat penyampai pesan kolektif, menyatukan warga dalam satu momentum yang sama.
Tradisi ini pun berkembang seiring waktu. Dari penggunaan batang kelapa, kemudian kayu saat era logging, hingga kini dengan peralatan yang lebih modern. Namun fungsi sosialnya sebagai pemersatu tetap melekat.
Ahmad Sofian menilai, kekuatan Meriam Karbit justru terletak pada nilai komunikasinya—bagaimana satu dentuman mampu menggerakkan kesadaran bersama, membangun kebersamaan, dan mempererat relasi sosial masyarakat.
Ia menegaskan, Meriam Karbit bukan sekadar dentuman keras di malam Ramadan, tetapi simbol komunikasi tradisional yang merekatkan identitas warga Pontianak lintas generasi.









